gelaran buku

Penerbit Indie Book Corner (IBC) adalah penanda munculnya teknologi cetak baru di dunia penerbitan Indonesia, yakni Print on Demand (POD). Mereka begitu gembira membantu orang-orang untuk punya buku yang isinya ditulisnya sendiri. Digawangi oleh penyair muda asal Sasak, Lombok, Irwan Bajang, IBC kini sudah dua tahun membantu sastrawan-sastrawan muda yang menerbitkan bukunya dengan cara “gerilya”.

Lihat pos aslinya 150 kata lagi

Iklan
Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Buku Indie, Kenapa Harus Malu, Aya?

*tanggapan atas pemberitaan dan sikap Aya Lancaster tentang bukunya yang go internasional*

Berita dengan judul “Novel Mahasiswa Bandung Sukses di Pasar Internasional” yang dilansir Portal Berita Republika.co.id, (21/1/2012 ternyata mendapat perhatian yang cukup luas di kalangan pembaca dan peminat dunia perbukuan di Indonesia. Bukan hanya di komentar posting Republika itu, pemberitaan meluas menjadi disikusi yang panjang di beberapa jejaring sosial, juga portal-portal di internet. Seminggu setelah posting berita di Republika, terdapat sekurangnya 248 komentar, dengan share di twitter mencapai 160 lebih. Berita tersebut juga disukai oleh 710.000 jempol pengguna facebook, 569 orang di antaranya menyarankan dengan memasang di wall facebook mereka. Sebuah apresiasi yang cukup besar untuk ukuran sebuah berita singkat. Apalagi hanya membahas novel yang bahkan belum banyak dibaca oleh pembaca (di) Indonesia.

Berhari-hari saya  menahan untuk berkomentar, meskipun geli juga dengan beberapa hal yang menjadi perdebatannya. Saya takut memberi penilaian, karena saya memang tak banyak tahu tentang bukunya, bagaimana proses terbit dan penerimaan pasar atas buku tersebut. Bahkan saya tak menemukan banyak keterangan tentang Aya Lancaster si penulis.

Tanggapan serius makin banyak, terutama setelah Adelinne Anastasya memuat link sebuah blog  (sampai sekarang saya juga belum tahu milik siapa) di forum facebook fan page Aya dan bukunya. Blog ini menghadirkan fakta baru bahwa penerbit buku Chronicles of the Fallen: Rebellion karya Aya adalah AuthorHouse, sebuah penerbit self publish (indie) berlokasi di AS dan UK. Sebelumnya, komentator banyak memuji Aya dan menyalahkan penerbit lokal. Banyak yang beranggapan dan sinis; bagaimana bisa penerbit Indonesia kebobolan dan meloloskan sebuah naskah berkelas internasional? Begitulah kira-kira tanggapan banyak orang. Namun setelah si blogger menulis dan menyuguhkan fakta, komentar malah berbalik arah, pujian terhadap Aya berbalik menjadi komentar pedas. Aya dicap tidak jujur. Selanjutnya banyak yang meremehkan Aya, meskipun banyak juga yang sinis terhadap tulisan di blog dan menganggap penulis blog tersebut iri. Seorang komentator pedas membuat blogger ini kembali menulis satu tanggapan lagi di blognya. Pemberitaan ini selain ramai di Kaskus juga diposting ulang oleh banyak sekali blogger.

Perdebatan di blog tersebut rupanya berujung pangkal pada sorotan tentang bagaimana novel ini terbit. Setelah tahu buku itu self publish, si pemilik blog menuduh Aya tidak proporsional (dalam pemberitaan) dan memandang buku itu biasa saja. Setidaknya itulah yang tercermin dari tanggapannya seperti yang ia tulis “But, sorry to say, NOTHING SPECIAL about Aya Lancaster -except she’s famous now, thanks to misguiding articles.”
***

Dalam sebuah wawancara, Aya sendiri mengaku bukunya banyak ditolak oleh penerbit lokal di Indonesia. Namun, ketika ditawarkan di penerbit asing malah diterima dan kini sudah beredar di banyak negara; Eropa, Jepang, Singapura dan Amerika Serikat. Sebenarnya ini adalah lompatan yang bagus bagi Aya sendiri. Bukunya tak lagi hanya dinikmati di Indonesia, tapi juga bisa dijual dan dibaca banyak orang di luar negara berbahasa Indoensia. Bukunya telah dipasarkan di Amazon dan Barnes and Noble. Selain itu katanya novelnya itu juga sudah diresensi oleh Reader Digest. Yang membuat polemik dan patut disayangkan sebenarnya adalah ketidakjujuran Aya dalam menjelaskan bahwa AuthorHouse, penerbit novelnya itu ternyata “hanyalah” sebuah self publishing; Aya sendiri yang membiayai penerbitan tersebut dan AuthorHouse hanyalah sebuah “jasa” penerbitan yang memfasilitasinya. Aya seperti cenderung menutupi fakta, hal ini terlihat dari fanpagenya Aya di mana ia cenderung tak mau membalas dengan terus terang menjelaskan mengenai penerbitan bukunya.

Jika saja sejak awal Aya jujur, mungkin tak akan terjadi polemik yang lumanyan panjang. Namun bagi saya sendiri, bukan di situ permasalahannya! Mungkin Aya kurang PD dengan novel self publishingnya. Atau ia menganggap rendah sebuah penerbit mandiri yang ia pakai. Sebab ia merasa berat untuk mengakui bukunya diterbitkan secara self publish.
***

Sebelum berlanjut membincangkan Aya dan jalur penerbitan bukunya (yang sebenarnya tidak terlalu signifikan untuk dibahas) ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Self publish memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia. Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah tekhnologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak misspersepsi tentang self publish. Self Publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipaki jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangaun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut. Juga dari asumsi saya melihat sikap Aya. Beberapa tanggapan kecewa atas pemberitaan Aya yang tak jujur akan bukunya, jelas menujukkan bahwa masih ada beberapa misspersepsi tentang penerbitan buku secara self publish dan melewatai jalur konvensional. Setidaknya, saya menangkap ada praktek atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hala yang tak disadarai oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan,  buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicucui, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati.
***

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal. Restrukturisasi kalimat yang kacau, koherensi kalimat, gagasan, pengaturan plot, penempatan ulang ide hanyalah sedikit bagian dari editing. Bahkan termasuk pilihan font, sudut pandang penulisan dan sebagainya. Pada sisi inilah, peran fital seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layout, cover, proof, cetak, promosi dan distribusi.

Ketika memutuskan self publish, beberapa hal tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus dengan penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktek self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja professional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

Aya seharusnya tidak malu

Jika ingin jujur, tak ada yang salah dengan Aya sebenarnya. Selain sikap ketidakjujurannya itu sendiri. Bagaimana pun, ia telah menempuh sebuah cara untuk memasarkan gagasannya bagi orang lain. Mari kita bayangkan, bagaimana proses ketika dia menerbitkan bukunya di luar negeri. Kalau naskah awalnya adalah bahasa Indonesia, tentu Aya melakukan usaha lain lagi untuk menjadikan bukunya menjadi bahasa asing. Entah ia menerjemahkan ulang bukunya, atau memakai jasa penerjemah juga untuk buku tersebut.

Hingga saat ini, saya pun belum membaca buku Aya dan tak tahu bagaimana isinya. Yang jelas. Dunia yang makin terbuka membuat kita bisa saja menjadi penulis di luar bahasa kita. Terlebih lagi dengan adanya blog atau toko buku online yang sudah benar-benar menerobos batas territorial. Mungkin (bahkan) seorang penulis tak butuh penerbit “indie” luar negeri (lagi). Mereka cukup menerjemahkan bukunya lalu intens di forum penulis atau pembaca internasional yang tak hanya berbahasa Indonesia, lalu bukunya sudah bisa go internasional. Tak ada hambatan untuk menyampaikan gagasan, juga untuk publikasinya ke seluruh dunia. Bukankah kita juga bisa membeli buku di Amazon atau Barnes and Nobel dari kamar saat ini juga, memesan di websitenya dan membayar dengan PayPal atau kartu kredit? Lalu apa masalahnya? Harusnya, kita bahkan tak perlu juga memperdebatkan buku lokal dan internasional.

Aya telah memulai debut yang bagus. Dan bagi saya tak ada beda apapun antara AuthorHouse, dengan Penguin, AuthorsDen dan lain sebagainya. Self publish bukan aib, bukan juga jalan pintas. Self publish itu jalan yang sama dengan penerbitan biasa. Ia adalah salah satu cara, dari penulis, meuju pembaca, entah via toko buku atau direct selling. Maka jangangan takut dan malu.

Nah, menegenai promosi yang bombastis, saya rasa sah-sah saja. Tinggal pembaca saja yang selektif. Masak sih seorang pembaca hanya akan percaya dengan pemberitaan seperti itu. Apakah Anda adalah salah satu orang yang selalu membeli buku dengan logo best seller, inspiratif, menggugah iman atau buku dengan taburan endorsement orang beken? Percayalah, banyak buku yang dicetakan pertama sudah dituliskan best seller. Sama ketika seorang pedagang apel di sebuah pasar bisa mengklaim ini apel Malang, ini apel Wasington. Semuanya hanya demi penjualan dan bisnis. Dunia begitu terbuka dan begitu banyak celah. Teliti sebelum membeli.

Kepada Aya, saya ingin mengucapkan selamat. Congrats, Aya! Tapi kamu tak perlu malu mengakui bukumu kamu terbitkan sendiri.

@Irwanbajang

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | 23 Komentar

A man may die, nations ma…

A man may die, nations may rise and fall, but an idea lives on.
-John F. Kennedy

Kutipan | Posted on by | 1 Komentar

Sayembara Buku Indie, Berhadiah Paket Penerbitan 140 Juta

Indie Book Corner sudah mengawal banyak penulis dalam mempublikasikan karyanya berupa buku. Dari panjangnya pengalaman tersebut, nyaris tidak ada halangan yang berarti bagi penulis. Mereka cukup mengantarkan naskahnya pada tim IBC, lalu proses penyuntingan dilakukan, ketika layout dan desain selesai kemudian naskah segera dipublikasikan (dicetak) menjadi buku. Salah satu permasalahan klasik, tentu saja adalah dana. Ada banyak penulis yang punya naskah bagus, bahkan bisa sendiri menyelesaikan layout dan cover bukunya, hanya saja terhenti dari segi pendanaan bukunya.

Sebenarnya mencetak 10 atau 20 eksemplar naskah tidaklah berat bagi sebagian orang. Namun oplah yang sedikit ini tentu saja berpengaruh pada penyebaran buku tersebut. Buku dengan oplah sedikit hanya tersebar di wilayah yang sempit pula.

Untuk itulah, Indie Book Corner sebagai sebuah gerakan sadar yang dibangun untuk memfasilitasi penerbitan karya penulis mencari solusi. Dengan menyediakan 140 juta untuk 5 orang pemenang terpilih, dengan seleksi yang fokus pada usaha independent sang penulis, maka IBC berharap, kendala-kendala finansial penulis akan bisa teratasi. Untuk itulah, Sayembara Buku Indie berhadiah paket penerbitan 140 juta rupiah ini akan menjadi kabar yang segar dan memacu banyak penulis untuk menulis dan menerbitkan karyanya.

Bagi para penulis yang tertarik untuk ikut dalam sayembara ini bisa mengirimkan dua eksemplar buku indie mereka ke alamat: Panitia Sayembara Buku Indie 2011, Indie Book Corner, Gambiran Baru UH 5 Gang Ksatria 2 no. 36. RT 45 RW 8 Umbulharjo Jogjakarta.

Persyaratan dan Ketentuan

  1. Lomba terbuka untuk umum, dengan batasan usia maksimal 30 tahun. Warga Negara Indonesia, dan melampirkan fotokopi kartu identitas (KTP/KTM/Kartu Pelajar/Paspor)
  2. Peserta harus bergabung dalam group Indie Book Corner dengan mengklik ‘like’ pada http://facebook.com/inibukuku; juga menjadi follower twitter @indiebookcorner
  3. Karya asli, bukan saduran, bukan terjemahan, dan bukan jiplakan
  4. Karya belum pernah dipublikasikan dalam buku antologi atau buku yang ditulis tunggal oleh pengarangnya, juga tidak pernah disertakan dalam lomba sejenis
  5. Tema dan bentuk tulisan bebas, menghadirkan materi yang menggugah, inspiratif dan membuktikan kemandirian
  6. Naskah diketik rapi, dilayout dan diprint dalam format ukuran buku A5 (ukuran standar buku) dengan jumlah halaman 80-200 halaman. Naskah diketik rapi 1 spasi dan diberi nomor halaman, dibuat seperti buku atau mirip buku. Naskah bisa diprint/fotokopi kemudian dijilid lem, jilid kawat (staples), jilid ring, atau jilid dalam bentuk apa saja selama menunjukkan naskah itu serupa buku.
  7. Naskah dijilid sebanyak dua eksemplar dan dimasukkan dalam amplop tertutup yang ditujukan kepada: Panitia Sayembara Buku Indie2011; d/a Indie Book Corner, Gambiran Baru UH 5, Gang Ksatria 2 no.36 RT. 45 RW. 08, Umbul Harjo Jogjakarta.
  8. Naskah disertai profil penulis yang berisi riwayat hidup, pengalaman menulis, contact person (HP/email/facebook/twitter)
  9. Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya
  10. Karya kami terima paling lambat pada tanggal 9 Oktober 2011 (cap pos)
  11. Ketentuan dewan juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Hadiah

  1. Sertifikat
  2. Tropi
  3. Hadiah paket penerbitan sejumlah 15 juta rupiah akan diberikan kepada 5 buku terbaik. Selanjutnya masing-masing dari kelima buku terbaik tersebut akan dicetak sebanyak 300 eksemplar, dengan pendanaan sebesar 3 juta rupiah untuk setiap naskah. Naskah akan dipasarkan dengan royalti sebesar 15 persen dari total harga buku yang terjual.
  4. Jika 300 buku habis dalam jangka waktu 75 hari, maka penulis akan mendapatkan kontrak penerbitan buku sejumlah 5000 eksemplar. Dengan total pendanaan masing-masing 25 juta rupiah dan dipasarkan secara luas dan merata ke seluruh Indonesia, serta jaringan penjualan Indie Book Corner di luar negeri.
  5. Pemenang juga akan mendapatkan voucer makan, belanja dan cetak buku, travel dan lain sebagainya dari sponsor sayembara ini.

Kriteria Penilaian:

a. Kualitas Naskah

Kriteria ini mencakup isi naskah secara umum. Mulai dari tema yang menginspirasi banyak orang serta gaya tutur yang menarik. Pada poin ini penilaian difokuskan pada tema dan gagasan yang ditulis dalam buku indie tersebut oleh pengarangnya. Kriteria ini bernilai 40 poin.

b. Kemasan Buku

Penilaian pada kriteria ini adalah bagaimana buku itu dipublikasikan secara mandiri oleh penulisnya. Naskah yang kami terima adalah naskah berupa buku dengan sistem pembuatan buku yang ditangani langsung oleh penulisnya. Penilaian difokuskan pada tampilan buku, bagaimana layout buku indie disuguhkan ke pembaca, cover yang menarik dan selaras dengan isi. Dalam hal ini penulis diperbolehkan bekerjasama dengan desainer, pelukis, tukang gambar, layouter atau siapa saja yang bisa membantu penulis menyuguhkan buku dengan ‘perwajahan’ yang menarik. Langkah ini juga diharapkan bisa memberi pelajaran bagi penulis, bahwa menerbitkan buku itu mudah dan mengajaknya menggandeng tenaga lain untuk mengikis sifat individualisme penulis. Kriteria ini bernilai 30 poin.

c. Kerapian Isi

Penilaian pada cerita ini terletak pada sentuhan isi sebuah naskah. Penulis yang baik setidaknya mengetahui aturan dasar EYD (Ejaan yang Disempurnakan), bagaimana membuat kalimat efektif, bagaimana menaruh tanda baca, koherensi antarbab, antarparagraf dan antarkalimat. Dalam hal ini, penulis bisa bekerjasama dengan teman, saudara atau siapa saja yang bisa memoles naskahnya menjadi lebih rapi, teratur dan nyaman dibaca. Penulis bisa bekerjasama dengan editor atau penyunting bahasa. Dari kriteria ini, diharapkan nanti penulis bisa lebih paham mengenai proses sebuah buku dilahirkan. Bukan sekadar selesai diketik lalu langsung dipublikasikan, tapi juga melalui pembaca pertama, menerima masukan dari orang lain, belajar bekerjasama dengan editor dan lain sebagainya. Poin kriteria ini adalah 30.

Pengumuman Pemenang

Lima (5) penulis dengan total nilai terbanyak akan dipilih sebagai pemenang, diumumkan 15 hari setelah lomba ditutup. Para pemenang akan dihubungi dan diundang dalam acara launching 5 buku indie terbaik  secara serempak. Pengumuman pemenang akan disampaikan lewat semua jejaring social yang dimiliki Indie Book Corner, log dan website, radio serta majalah dan surat kabar. (Irwan Bajang)

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 4 Komentar

Sayembara Buku Indie 140 Juta

Dalam rangka merayakan ulang tahun yang kedua, sekaligus memberikan support yang besar terhadap berjalannya kegiatan tulis-menulis, terutama dalam hal publikasi tulisan ke dalam bentuk buku secara mandiri, Indie Book Corner (IBC) akan menyelenggarakan Sayembara Buku Indie dengan total hadiah berupa paket penerbitan senilai 140 juta rupiah. Sayembara ini digelar selama satu bulan, dimulai dari tanggal 9 September sampai 9 Oktober 2011.

Dalam sayembara kali ini, IBC akan memfokuskan kegiatan peserta pada proses pembuatan buku secara mandiri oleh penulisnya. Berbeda dari lomba-lomba menulis kebanyakan, yang hanya meminta peserta mengirimkan manuskrip naskah mentah yang hanya dijilid seadanya, pada lomba ini IBC menyaratkan pengiriman naskah berupa buku. Sayembara ini adalah sayembara buku indie, jadi penulis akan memproduksi sendiri tulisannya menjadi buku, baru kemudian diikutkan sayembara untuk dinilai buku siapa yang terbaik.

 

Adapun penilaian buku indie tersebut adalah tiga kategori. Kriteria pertama adalah ‘kualitas naskah’, kriteria ini mencakup isi naskah secara umum. Mulai dari tema yang menginspirasi banyak orang serta gaya tutur yang menarik. Fokuskan penilaian ada pada tema dan gagasan yang ditulis dalam buku indie tersebut oleh pengarangnya. Kriteria ini bernilai 40 poin.

Kedua, ‘kemasan buku’, penilaian pada kriteria ini adalah bagaimana sebuah buku dipublikasikan secara mandiri oleh penulisnya. Naskah yang diterima terima adalah naskah berupa buku dengan sistem pembuatan buku yang ditangani langsung oleh penulisnya. Penilaian difokuskan pada tampilan buku, bagaimana layout buku indie disuguhkan ke pembaca, cover yang menarik dan selaras dengan isi. Dalam hal ini penulis diperbolehkan bekerjasama dengan desainer, pelukis, tukang gambar, layouter atau siapa saja yang bisa membantu penulis menyuguhkan buku dengan ‘perwajahan’ yang menarik. Langkah ini juga diharapkan bisa memberi gambaran nyata bagi penulis, bahwa menerbitkan buku itu mudah serta mengajaknya menggandeng tenaga lain untuk mengikis sifat individualisme penulis. Kriteria ini bernilai 30 poin.

Kriteria ketiga, adalah ‘kerapian isi’, penilaian pada kriteria ini terletak pada sentuhan isi sebuah naskah. Penulis yang baik setidaknya mengetahui aturan dasar EYD (Ejaan yang Disempurnakan), aturan-aturan standar menulis, bagaimana membuat kalimat efektif, bagaimana menaruh tanda baca, koherensi antarbab, antarparagraf dan antarkalimat. Penulis bisa bekerjasama dengan teman, saudara atau siapa saja yang bisa memoles naskahnya menjadi lebih rapi, teratur dan nyaman dibaca. Penulis bisa bekerjasama dengan editor atau penyunting bahasa. Dari kriteria ini, diharapkan nanti penulis bisa lebih paham mengenai proses sebuah buku dilahirkan. Bukan sekadar selesai diketik lalu langsung dipublikasikan, tapi juga melalui pembaca pertama, menerima masukan dari orang lain, belajar bekerjasama dengan editor dan lain sebagainya. Poin kriteria ini adalah 30.

Untuk Sayembara ini IBC akan menyediakan total dana 140 juta rupiah, yakni berupa paket penerbitan yang akan dihadiahkan pada penulis. Bagi 5 (lima) pengirim karya terbaik akan mendapatkan kontrak terbit lebih dari 5000 eksemplar dengan pendanaa satu naskah sampai 25 juta rupiah.

Pihak penyelanggara sayembara buku indie ini bermaksud membantu menekan halangan-halangan dalam mempublikasikan karya ke dalam bentuk buku.

Indie Book Corner sudah mengawal banyak penulis dalam mempublikasikan karyanya berupa buku. Dari panjangnya pengalaman tersebut, nyaris tidak ada halangan yang berarti bagi penulis. Mereka cukup mengantarkan naskahnya pada tim IBC, lalu proses penyuntingan dilakukan, ketika layout dan desain selesai kemudian naskah segera dipublikasikan (dicetak) menjadi buku. Salah satu permasalahan klasik, tentu saja adalah dana. Ada banyak penulis yang punya naskah bagus, bahkan bisa sendiri menyelesaikan layout dan cover bukunya, hanya saja terhenti dari segi pendanaan bukunya.

Sebenarnya mencetak 10 atau 20 eksemplar naskah tidaklah berat bagi sebagian orang. Namun oplah yang sedikit ini tentu saja berpengaruh pada penyebaran buku tersebut. Buku dengan oplah sedikit hanya tersebar di wilayah yang sempit pula.

Untuk itulah, Indie Book Corner sebagai sebuah gerakan sadar yang dibangun untuk memfasilitasi penerbitan karya penulis mencari solusi. Dengan menyediakan 140 juta untuk 5 orang pemenang terpilih, dengan seleksi yang fokus pada usaha independent sang penulis, maka IBC berharap, kendala-kendala finansial penulis akan bisa teratasi. Untuk itulah, Sayembara Buku Indie berhadiah paket penerbitan 140 juta rupiah ini akan menjadi kabar yang segar dan memacu banyak penulis untuk menulis dan menerbitkan karyanya.

Bagi para penulis yang tertarik untuk ikut dalam sayembara ini bisa mengirimkan dua eksemplar buku indie mereka ke alamat: Panitia Sayembara Buku Indie 2011, Indie Book Corner, Gambiran Baru UH 5 Gang Ksatria 2 no. 36. RT 45 RW 8 Umbulharjo Jogjakarta.

Untuk info lain yang belum jelas, bisa dilihat dan ditanyakan langsung di website Indie Book Corner di http://bukuindie.com/

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 3 Komentar

Lomba Menulis Berhadiah 140 juta rupiah

Pada ulang tahun Indie Book Corner yang kedua, yang jatuh pada tangga 9 September 2011 nanti, kami akan mengadakan lomba menulis (menerbitkan buku indie sendiri) dengan hadiah paket penerbitan senilai 140 juta rupiah hanya untuk 5 pemenang.

Bagaimana prosedurnya? Siapa saja yang boleh ikut? Tunggu saja ya. Yang penting sekarang adalah, siapkan naskah kalian, tunggu kejutan dari kami!

Salam
Indie Book Corner

Dipublikasi di Uncategorized | Tag | 30 Komentar

Kumpulan Skenario Horror

Kalau selama ini kita sering mendengar penulis perempuan bernama Djenar Mahesa Ayu, nah kali ini Indie Book Corner memperkenalkan penulis mudanya yang bernama Mahesa Djenar. Ia bukan perempuan, ia adalah seorang lelaki tulen yang jenius dalam mengisahkan cerita-cerita horror dalam kemasan yang unik. Cerita-cerita horrornya mampu membuat kita tidak berani ke kamar mandi sendirian, bahkan terkadang cerita horrornya mampu membuat kita tertawa terbahak-bahak sampai membuat kita lupa mandi. Itulah keunikan tulisan karya Mahesa Djenar ini.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , , , | 5 Komentar