Buku Indie, Kenapa Harus Malu, Aya?

*tanggapan atas pemberitaan dan sikap Aya Lancaster tentang bukunya yang go internasional*

Berita dengan judul “Novel Mahasiswa Bandung Sukses di Pasar Internasional” yang dilansir Portal Berita Republika.co.id, (21/1/2012 ternyata mendapat perhatian yang cukup luas di kalangan pembaca dan peminat dunia perbukuan di Indonesia. Bukan hanya di komentar posting Republika itu, pemberitaan meluas menjadi disikusi yang panjang di beberapa jejaring sosial, juga portal-portal di internet. Seminggu setelah posting berita di Republika, terdapat sekurangnya 248 komentar, dengan share di twitter mencapai 160 lebih. Berita tersebut juga disukai oleh 710.000 jempol pengguna facebook, 569 orang di antaranya menyarankan dengan memasang di wall facebook mereka. Sebuah apresiasi yang cukup besar untuk ukuran sebuah berita singkat. Apalagi hanya membahas novel yang bahkan belum banyak dibaca oleh pembaca (di) Indonesia.

Berhari-hari saya  menahan untuk berkomentar, meskipun geli juga dengan beberapa hal yang menjadi perdebatannya. Saya takut memberi penilaian, karena saya memang tak banyak tahu tentang bukunya, bagaimana proses terbit dan penerimaan pasar atas buku tersebut. Bahkan saya tak menemukan banyak keterangan tentang Aya Lancaster si penulis.

Tanggapan serius makin banyak, terutama setelah Adelinne Anastasya memuat link sebuah blog  (sampai sekarang saya juga belum tahu milik siapa) di forum facebook fan page Aya dan bukunya. Blog ini menghadirkan fakta baru bahwa penerbit buku Chronicles of the Fallen: Rebellion karya Aya adalah AuthorHouse, sebuah penerbit self publish (indie) berlokasi di AS dan UK. Sebelumnya, komentator banyak memuji Aya dan menyalahkan penerbit lokal. Banyak yang beranggapan dan sinis; bagaimana bisa penerbit Indonesia kebobolan dan meloloskan sebuah naskah berkelas internasional? Begitulah kira-kira tanggapan banyak orang. Namun setelah si blogger menulis dan menyuguhkan fakta, komentar malah berbalik arah, pujian terhadap Aya berbalik menjadi komentar pedas. Aya dicap tidak jujur. Selanjutnya banyak yang meremehkan Aya, meskipun banyak juga yang sinis terhadap tulisan di blog dan menganggap penulis blog tersebut iri. Seorang komentator pedas membuat blogger ini kembali menulis satu tanggapan lagi di blognya. Pemberitaan ini selain ramai di Kaskus juga diposting ulang oleh banyak sekali blogger.

Perdebatan di blog tersebut rupanya berujung pangkal pada sorotan tentang bagaimana novel ini terbit. Setelah tahu buku itu self publish, si pemilik blog menuduh Aya tidak proporsional (dalam pemberitaan) dan memandang buku itu biasa saja. Setidaknya itulah yang tercermin dari tanggapannya seperti yang ia tulis “But, sorry to say, NOTHING SPECIAL about Aya Lancaster -except she’s famous now, thanks to misguiding articles.”
***

Dalam sebuah wawancara, Aya sendiri mengaku bukunya banyak ditolak oleh penerbit lokal di Indonesia. Namun, ketika ditawarkan di penerbit asing malah diterima dan kini sudah beredar di banyak negara; Eropa, Jepang, Singapura dan Amerika Serikat. Sebenarnya ini adalah lompatan yang bagus bagi Aya sendiri. Bukunya tak lagi hanya dinikmati di Indonesia, tapi juga bisa dijual dan dibaca banyak orang di luar negara berbahasa Indoensia. Bukunya telah dipasarkan di Amazon dan Barnes and Noble. Selain itu katanya novelnya itu juga sudah diresensi oleh Reader Digest. Yang membuat polemik dan patut disayangkan sebenarnya adalah ketidakjujuran Aya dalam menjelaskan bahwa AuthorHouse, penerbit novelnya itu ternyata “hanyalah” sebuah self publishing; Aya sendiri yang membiayai penerbitan tersebut dan AuthorHouse hanyalah sebuah “jasa” penerbitan yang memfasilitasinya. Aya seperti cenderung menutupi fakta, hal ini terlihat dari fanpagenya Aya di mana ia cenderung tak mau membalas dengan terus terang menjelaskan mengenai penerbitan bukunya.

Jika saja sejak awal Aya jujur, mungkin tak akan terjadi polemik yang lumanyan panjang. Namun bagi saya sendiri, bukan di situ permasalahannya! Mungkin Aya kurang PD dengan novel self publishingnya. Atau ia menganggap rendah sebuah penerbit mandiri yang ia pakai. Sebab ia merasa berat untuk mengakui bukunya diterbitkan secara self publish.
***

Sebelum berlanjut membincangkan Aya dan jalur penerbitan bukunya (yang sebenarnya tidak terlalu signifikan untuk dibahas) ada baiknya kita melihat dulu dan memahami, apa dan bagaimana sesungguhnya self publish tersebut. Setidaknya pada bagian apa saja yang harus dilewati, baik penerbitan secara konvensional atau penerbit mandiri yang akrab disebut self publish.

Self publish memberi titik terang dalam dunia perbukuan di dunia dan Indonesia. Sejak mesin Xerox ditemukan pada tahun 1970-an, otomatis produksi barang cetakan menjadi semakin gampang. Sejak itulah tekhnologi Print On demand mulai berkembang pesat. Di Indonesia sendiri, sistem ini mulai popular sejak sepuluh tahun belakangan ini. Sejak sistem ini mulai dikenal luas, dunia penerbitan dan perbukuan seolah mengalami sebuah kemajuan yang pesat. Pola sentralisasi produksi perbukuan tidak hanya didominasi oleh penerbit saja. Belakangan kontrolnya mulai dipegang penulis, beberapa penerbit kecil dan beberapa penerbit penyedia layanan jasa ini.

Ada banyak misspersepsi tentang self publish. Self Publish adalah ban serep, begitulah anggapan banyak orang. Sistem ini dipaki jika (1) sebuah naskah ditolak penerbit besar, atau (2) sebagai batu loncatan membangaun nama sebelum dilirik penerbit besar, atau juga (3) jalan pintas menerbitkan karya. Kesimpulan ini saya dapatkan dari beberapa penulis yang secara jujur mengakui hal tersebut. Juga dari asumsi saya melihat sikap Aya. Beberapa tanggapan kecewa atas pemberitaan Aya yang tak jujur akan bukunya, jelas menujukkan bahwa masih ada beberapa misspersepsi tentang penerbitan buku secara self publish dan melewatai jalur konvensional. Setidaknya, saya menangkap ada praktek atau asumsi bahwa penerbit major konvensional itu punya standar yang luas dan ketat dalam menerbitkan dan menerima naskah, sementara penerbit indie tidak. “Kalian hanya cukup punya tulisan, duit, dan bukumu akan terbit.” Memang benar seperti itu di satu hal. Tapi ada banyak hala yang tak disadarai oleh banyak penulis, bahwa selain hanya ditulis, dicetak dan dipasarkan,  buku punya banyak sekali prosedur. Sebab ketika ada beberapa sesi yang dilompati, buku menjadi seolah sebuah barang produksi biasa. Seperti buah-buahan. Selesai berbuah, langsung dipetik dan dimakan. Tidak dipikirkan untuk dicucui, diolah dan dikreasikan agar rasanya lebih enak dan bisa dinikmati.
***

Bagian terpenting dari sebuah buku pasca selesai menulis bagi saya adalah editing atau penyuntingan. Tentu saja editing di sini tidak semata-mata hanya pengecekan tanda baca dan pembenaran ejaan saja. Tapi editing menyangkut banyak sekali hal. Restrukturisasi kalimat yang kacau, koherensi kalimat, gagasan, pengaturan plot, penempatan ulang ide hanyalah sedikit bagian dari editing. Bahkan termasuk pilihan font, sudut pandang penulisan dan sebagainya. Pada sisi inilah, peran fital seorang editor bisa kita lihat. Setelah editing, maka proses lain berikutnya bisa dilanjutkan; layout, cover, proof, cetak, promosi dan distribusi.

Ketika memutuskan self publish, beberapa hal tadi juga harus harus diperhatikan, sehingga tak ada lagi anggapan miring bahwa sebuah buku terbitan penerbit besar jauh lebih bagus dengan penerbit indie. Ini adalah asumsi yang salah. Dan asumsi ini lahir dari beberapa praktek self publishing yang salah juga. Termasuk oleh beberapa penulis yang melakukan kerja-kerja self publishing.

Buku tak sesederhana itu. Ketika seorang penulis sudah melalui step by step proses tadi, buku tersebut bisa disetarakan, atau bahkan bisa jauh lebih bagus dari buku garapan penerbit. Bukankah tak ada jaminan bahwa Bentang atau Gramedia bisa lebih bagus dari sebuah penerbitan kecil yang mungkin hanya berada di pojokan gang di Jogja atau Bandung? Bagi saya, nama bukanlah ukuran. Ada banyak penulis self publish juga memakai jasa editor freelance yang bagus. Editor freelance bahkan menjadi sebuah pekerjaan yang tak mesti harus berkantor di penerbitan, tetapi sebuah kerja professional sendiri dan bisa dipakai oleh siapa saja. Dengan mengontak dan kerjasama bersama editor, buku bisa dipoles jauh lebih sempurna dari naskah awalnya.

Aya seharusnya tidak malu

Jika ingin jujur, tak ada yang salah dengan Aya sebenarnya. Selain sikap ketidakjujurannya itu sendiri. Bagaimana pun, ia telah menempuh sebuah cara untuk memasarkan gagasannya bagi orang lain. Mari kita bayangkan, bagaimana proses ketika dia menerbitkan bukunya di luar negeri. Kalau naskah awalnya adalah bahasa Indonesia, tentu Aya melakukan usaha lain lagi untuk menjadikan bukunya menjadi bahasa asing. Entah ia menerjemahkan ulang bukunya, atau memakai jasa penerjemah juga untuk buku tersebut.

Hingga saat ini, saya pun belum membaca buku Aya dan tak tahu bagaimana isinya. Yang jelas. Dunia yang makin terbuka membuat kita bisa saja menjadi penulis di luar bahasa kita. Terlebih lagi dengan adanya blog atau toko buku online yang sudah benar-benar menerobos batas territorial. Mungkin (bahkan) seorang penulis tak butuh penerbit “indie” luar negeri (lagi). Mereka cukup menerjemahkan bukunya lalu intens di forum penulis atau pembaca internasional yang tak hanya berbahasa Indonesia, lalu bukunya sudah bisa go internasional. Tak ada hambatan untuk menyampaikan gagasan, juga untuk publikasinya ke seluruh dunia. Bukankah kita juga bisa membeli buku di Amazon atau Barnes and Nobel dari kamar saat ini juga, memesan di websitenya dan membayar dengan PayPal atau kartu kredit? Lalu apa masalahnya? Harusnya, kita bahkan tak perlu juga memperdebatkan buku lokal dan internasional.

Aya telah memulai debut yang bagus. Dan bagi saya tak ada beda apapun antara AuthorHouse, dengan Penguin, AuthorsDen dan lain sebagainya. Self publish bukan aib, bukan juga jalan pintas. Self publish itu jalan yang sama dengan penerbitan biasa. Ia adalah salah satu cara, dari penulis, meuju pembaca, entah via toko buku atau direct selling. Maka jangangan takut dan malu.

Nah, menegenai promosi yang bombastis, saya rasa sah-sah saja. Tinggal pembaca saja yang selektif. Masak sih seorang pembaca hanya akan percaya dengan pemberitaan seperti itu. Apakah Anda adalah salah satu orang yang selalu membeli buku dengan logo best seller, inspiratif, menggugah iman atau buku dengan taburan endorsement orang beken? Percayalah, banyak buku yang dicetakan pertama sudah dituliskan best seller. Sama ketika seorang pedagang apel di sebuah pasar bisa mengklaim ini apel Malang, ini apel Wasington. Semuanya hanya demi penjualan dan bisnis. Dunia begitu terbuka dan begitu banyak celah. Teliti sebelum membeli.

Kepada Aya, saya ingin mengucapkan selamat. Congrats, Aya! Tapi kamu tak perlu malu mengakui bukumu kamu terbitkan sendiri.

@Irwanbajang

Tentang Irwan Bajang

Penulis dan Editor. Juru masak pedans ultraortodoks
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , , , . Tandai permalink.

23 Balasan ke Buku Indie, Kenapa Harus Malu, Aya?

  1. Anastasya Adelinne berkata:

    Maaf mas, saya Adelinne yg disebutkan di atas. Tapi blog itu bukan punya saya. Saya dapet via Twitter. Punya siapa blog itu saya kira mas bisa tanya sendiri sama pemiliknya langsung, yg jelas itu bukan punya saya. Takutnya peimilknya protes kalo baca tulisan mas ini. Mohon tolong diralat, takutnya menimbulkan fitnah dll.

  2. Daeng Oprek berkata:

    Hai Aya, betul kata @IrwanBajang, kenapa mesti malu, daripada malu-maluin mending tutup itu malu dengan kreasi yg jujur, karena jujur dalam berkarya adalah penghargaan yang sangat istimewa dan luar biasa menurutku. Aku sependapat bahwa Self Publishing bukan Aib, apalagi garong, bukan!, pada dasarnya kita sebagai manusia adalah makhluk yg kreatif, maka dari itu, banyak cara dan ide2 yg bisa ditelurkan, tidak berharap pada penerbit besar saja, dan sebagai catatan, kalau ada penerbit yg sudah besar, so pasti sudah kelimpungan alias rada-rada kewalahan, pasalnya, naskah yg banyak pasti berjubelan mengeceknya, dan belum lagi perhitungan laba dari buku2 yg sudah dipasarkan butuh penanganan yg jlimet. Pokoknya banyak deh, nah sebagai manusia yg kreatif, maka banyak cara yg bisa ditempuh untuk menerbitkan buku, salah satunya ada self publishing. Dan juga, kalau penerbit besar dalam mengecek naskah sangat lama, sedangkan self publishing semilsal Indie Book Corner, hanya sebulan, seperti buku aku yg berjudul SADAMDA BASEMEN, meski harus direvisi ulang agar nanti layak dijual, sembari menunggu investor. *ready to be famous?, siapa takut. :D*. So, Alya, mari memasyarakatkan Self Publishing dan “Meng-self publishing-kan” semua karya yg ada. Bukannya sombong sih, tapi jangan sampai “raksasa” itu memangsa kita para penulis baru dengan “nama beken” yg sudah ada, lebih baik kita berbekam membersihkan darah dan juga isi kantong. gimana?, wah…komentar yg panjang ya?, ngak apa2 khan?.😀, so. aku ucapkan aja pada Aya juga dan para Self Publishing sebuah mantra, yaitu SADAMDA BASEMEN, akronim dari salam damai dan bahagia selalu menyertai, amin

    • Irwan Bajang berkata:

      wih, komentarnya panjang ya daeng oprek. mantap deh, kalau saja aya jujur kayak daeng ini, mungkin nggak perlu ada polemik dan akan banyak sekali orang yang mendukung, entah baik atau buruk naskahnya.

      Sadamda selalu deh :)) *kampanye sadamda*

  3. Sundea berkata:

    Aku belom baca bukunya Aya, tapi pas liat sinopsisnya … kayaknya menarik.

    Sebenernya bukan masalah siapa yang nerbitin, tapi gimana kualitas bukunya. Mau itu diterbitin sama penerbit major atau self publisher, kalo bagus ya bagus, kalo jelek ya jelek.

    Soal self publisher sendiri, menurut Dea sebaiknya diliat positif. Mereka ngasih ruang alternatif untuk tulisan dan perpanjangan tangan untuk berbagi. Gimana responnya, itu kan bergantung pemirsa😉

    • Irwan Bajang berkata:

      sepakat sama mbak sundea. hehe. makanya, menurut saya proses dan hasilnya ini harus dilihat secara terang dan obyektif. tentu saja penulisnya juga harus memulai obyektif… kasian juga kalau aya justru malah nggak paham dengan sikap self publish yang ia tempuh🙂

      trims atas kunjungannya

  4. Ron berkata:

    Mula Harahap udah meninggal loh. Kalau gak salah 2010 lalu.

    • Irwan Bajang berkata:

      Setelah saya telusuri, ternyata memang bukan Mula Harahap, sebab Mula sudah meninggal tahun 2010 dan adalah salah satu kativis perbukuan. Si penulis blog tersebut hanya mengutip beberapa kata di “tentang blog Mula Harahap” http://www.mulaharahap.wordpress.com. Sementara ini, saya belum tahu identitas blogger tersebut. hehehehe
      Nama Mula di posting sudah saya ganti menjadi “blogger”, trims ya.

  5. helvry berkata:

    bener sih..kalau saja ada klarifikasi dari Aya tentang self publishing company yang menerbitkan bukunya, tentu tak perlu seheboh ini. Toh penilaian akhir ada di pembaca bukan di penerbit.

  6. Ren berkata:

    Kalau menurut saya, Aya ini “promosi besar-besaran tapi tanpa dasar fakta yang kuat”
    Kenapa saya bilang gitu? Pertamanya, sudah diresensi Reader Digest. Ini Reader Digest yang mana ya?:/ Saya cari linknya kok ga ada (atau saya yang mungkin kurang teliti). Setau saya, biasanya penulis baru kan rada narsis gitu, hehehe. Kalo diresensi dimedia apapun, akan dikasih buktinya. Entah di fanpagenya atau apa. Tapi nyatanya juga ga ada.

    Kedua, sudah beredar di Amerika dan Eropa. Saya makin bingung. Kenapa ga kedetect sama orang- orang Amrik sana? Karena dilihat di Goodreads (sitenya para penggemar buku yang sudah bersifat international), hanya ada beberapa yang memasukkan ke shelvesnya. Ga sampai 5 orang. Selain itu di Amazon juga rankingnya hanya ranking sejuta sekian-sekian. Makin bingung kan saya? Apalagi taglinenya yang wah itu , “sukses di pasaran international”. Suksesnya ini dalam artian apakah dia bener – bener sukses menerbitkan buku yang dinikmati kalangan international (dalam hal ini pembaca Amerika dan Eropa) atau sukses nerbitin buku pake bahasa Inggris dan oleh penerbit luar walaupu indie?

    Bener yang punya blog yang dipaparkan di atas (saya ikut kasih opini juga disana), artikelnya emang membuat orang salah persepsi. Saya sempat mencak2 pas tau karyanya ditolak penerbit sini dan diterbitkan penerbit luar. Teganya penerbit Indo, masa ide kayak gitu (iblis wanita) ditolak sih, hehehe😛. Tapi setelah baca blog yang memaparkan fakta-fakta sebenarnya, jadinya kan artikel Republika itu sebenarnya akan bermakna “memojokkan Penerbit Lokal” dengan pemikiran seperti ini :”Apa yang dipikirkan oleh penerbit lokal sampai mereka menolak karya Aya ini, hingga dia harus menerbitkan dari penerbit luar negeri? Dan lihat sekarang, dia sukses di sana!” Ini kan kalau dibaca orang awam yang ga ngerti apa – apa, akan seperti :waaa, amazed, delele. Sementara yang sudah tahu faktanya, yah wajar akan merasa tertipu. Apalagi di artikel itu Aya bilang, alasan penerbit lokal menolak karyanya adalah “mungkin tidak terbiasa dengan idenya”. Lhooo, masih mungkin tuh? Jadi alasan lainnya bisa bukan karena ide, tapi hal yang lain🙂

    Intinya saya setuju aja, bahwa untuk apa Aya malu dengan menerbitkan dari penerbit Indie? Aya sendiri sebenarnya juga salah, selain menutupi fakta, dia juga kesannya “mojokin Penerbit Lokal” dari apa yang diberikannya pada artikel Republika itu. Kalau dia jujur sepenuhnya, saya rasa ga akan jadi polemik dan kontroversi seperti ini🙂

    Maaf kalau kepanjangan😛

  7. Sebohong-bohongnya Aya, kesalahan terbesar ada pada si wartawan Republika-nya. Kok semua peserta diskusi ini (maupun di forum-forum dunia maya lainnya) seakan-akan lupa pada satu hal: pemantik diskusi kita disebabkan sebuah “artikel menyesatkan” (atawa ‘misguiding article’ kata si empunya blogger penyerang Aya).

    Kemungkinan hanya ada dua. Satu, si penulis berita seorang wartawan malas, tak hendak meriset bahan tulisan, atau bahkan sekadar menjelaskan latar belakang dunia penerbitan yang seharusnya ia sertakan di berita. Atau kedua, ia mendapatkan keuntungan dari publikasi Aya – dan tetap bukan “kesalahan” Aya jadinya – karena jika benar demikian, maka ia seorang wartawan tanpa integritas. Orang nyogok jelas berdosa (duh, moralis banget). Tapi sejalan dengan logika moralistis macam itu, orang yang tetap bersedia disogok ketika tugas utamanya menghapuskan pelanggengan budaya sogok-menyogok (dalam hal ini wartawan sebagai watchdog) jauh lebih berdosa buatku.

    Kasus Aya dan ribut-ribut mengenai “self-publishing” hanyalah efek sampingan. Poin utama yang seharusnya kita perhatikan benar-benar, buatku adalah: seperti ini hasilnya bila kualitas jurnalisme terpuruk. Anda meragukan bahayanya artikel yang keliru dan tidak berimbang? Simak saja berpuluh-puluh halaman komentar hanya yang terkait soal Aya ini.

    Demikian.

    • Irwan Bajang berkata:

      Hahaha, sepakat saya mas bung. Sebenarnya, saya ingin membahas itu juga. Tapi saya tahu saya tidak punya kapasitas yang banyak dalam hal itu. Maksud saya, setidaknya dengan rinci mengurai kesalahan fatal si wartawan pembuat berita yang jadi pemantik banyak sekali diskusi ini. Jelas dalam pemberitaan itu ia kacau sekali, tak valid dan tak memenuhi kaidah. Seperti yang dibahas Prima di note FBnya itu.

      Namun, dalam posisi ini, si Aya juga sepertinya memang tak ingin ambl puising, terlebih adalagi sebuah berita (entah sebelum atau sesudah berita go internasional itu diturunkan) yang menyatakan Aya memang “diterbitkan” karyanya oleh publisher luar negeri. Dan sampai sekarang, di fan pages atau di twitter, Aya tak pernah berkomentar. kecuali barusan saya buka twitter dan ia menjawabnya (menjawab pribadi pada saya dan bukan pada publik) Bisa di cek di sini–> http://t.co/GNkZUhIq

      Menurut saya sih ini hal sepele, makanya pada awalnya saya memilih tak ikut2an. Eh, malah rame. Ya sutralah… nulis ini. Itung2 olahraga jari lagi, biar nggak hanya 140 karakter. Hahahahahaha

  8. Santi berkata:

    Terima kasih atas pencerahannya mas Irwan, saya sedang menyiapkan naskah, dan ingin segera bisa kirim ke Mas untuk diedit dan dipasarkan sesuai prosedur. Saya setuju bahwa intinya, buku yang ditulis itu dibaca dan bisa memberikan dampak positif pada pembacanya. Penerbit lokal atau interlokal, indie atau tidak, rupanya jaman sekarang sudah tidak terlalu masalah.
    Sekaligus ulasan mas Irwan ini menjawab pertanyaan saya – yg belum dijawab juga oleh Mas🙂 – bahwa naskah yang masuk ke penerbit Indie juga diedit dan diberikan masukan2. Mantabs!

  9. menjual novel dan buku terbitan luar negeri ORIGINAL berkata:

    saya menjual beberapa novel dan buku terbitan luar negeri klau ada yg berminat kirim pesan aja ke e-mail saya
    yahoo : permadi_deni@rocketmail.com
    facebook : deni permadi

  10. joni berkata:

    sedikit bingung mas iwan hehe, sy sdh lama g aktif ngeblog, sejak mas iwan menawarkan untuk nerbitun buku di inde book corner sekitar 2 tahun lalu sbenarnya sudah saya edit namun gak finish2 hehehe… setlah ikutan sebuah komunitas self publishing, akhirnya sy bersemangat untuk merampungkan revisi dan penambahan beberapa judul puisi,, baru di upload tunggu approval dr admin, saya mampir ksini dan baca postingan ini,,, awalnya sih malu juga setelah tau apa itu self publising yg “dianggap” miring atau kurang berkompeten oleh sebagian orang, tapi jujur self publishing sangat membantu memotovasi penulis-penulis baru dana matiran seperti saya hehe…😀 thanks mas reviewnya ttg kasus aya,,,😀

  11. calvin berkata:

    halo, saya lagi baca novel ini, dari segi tema agak menjajikan, tapi eksekusinya mungkin bisa masuk ke kategori “menyedihkan”. saking tidak efektifnya teknik penulisan si pengarang (plus banyak nama yang terlalu asing dan jargon luar biasa banyak), saya harus membuat catatan tiap chapter agar tidak lupa ceritanya sudah sampai mana.

    saya tidak yakin akan baca novel ini walau dikasih gratis sih (saya beli versi ebooknya yang cuma lima dollar). full review akan saya publish di GR nanti.

  12. Chelonia Mydas berkata:

    Bangga loh menerbitkan buku secara indie🙂 Kita aja ngikutin langkah suksesnya mas Irwan.
    Tapi proses kreatifnya kita atur sendiri.

    Asyik indie itu bebas n ga perlu ngikut2 arus pasar. Suka ya tulis, ga suka ya ga tulis. haha
    Cek buku kita di blog http://www.cmiph.wordpress.com ya🙂

    *Malah ga bahas tentang Aya n tulisannya, soale ga kenal n belum baca buku atau berita2nya*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s