Buku Indie: Puisi Perlawanan

Devtra Mayday. Ia lahir di hari yang penuh sejarah bagi kemenangan kaum buruh di seluruh dunia. Hari itu tanggal 1 Mei, hari di mana jutaan buruh di Amerika Mogok untuk menolak pemberlakuan kerja yang eksploitatif oleh perusahaan. Ratusan orang jadi korban, namun protes itu berbuah kemenangan bagi kaum buruh dengan dietetapkanya jam kerja 8 jam dan gaji yang lebih manusiawi. Barangkali Devtra terilhami dari hal itu, sehingga ia menulis puisi-pluisi perlawanan. Ia seolah jengah dengan situasi bangsa kita yang makin terpuruk akibat modal internasional, korupsi, bobroknya mental penguasa dan lain sebagainya. Ia akhirnya menulis puisi dan menghimpunnya dalam sebuah antologi Semoga Adalah Negeriku. Buku ini diterbitkan secara indie bersama Indie Book Corner.

==================================================================
ADA banyak alasan, seseorang memilih kesenian sebagai jalan hidupnya, atau setidaknya memilih seni sebagai sebuah ruang untuk berekspresi dan berkarya. Eksistensialisasi diri barangkali menjadi alasan kebanyakan orang, tentu saja tanpa mengabaikan beragam alasan lainnya: kesenangan, hobi, iseng, atau bisa saja untuk berjuang. Tahun-tahun Orde Lama misalnya, seniman sempat terpisah menjadi dua kubu, Lekra dan Manikebu. Yang satu ingin mengembalikan seni pada rakyat, dengan semangat rezim saat itu yang memposisikan politik sebagai panglima. Sementara kelompok Manikebu mengusung ideologi berkesenian yang berbeda, yakni secara garis besarnya, ingin memposisikan seni untuk seni itu sendiri. Tentu saja, penerbit tidak sedang ingin memosisiskan buku imi pada salah satu kubu, sebab toh zaman sudah jauh berubah dan ada banyak alasan lain untuk berkesenian selain dua alasan dominan tersebut. Namun melihat sajak-sajak dalam antologi tunggal Devta Mayday ini, kita secara tidak langsung, baik sadar ataupun tidak sadar sedang disuguhkan potret-potret wajah buram negeri kita. Sehingga, barangkali tidak berlebihanlah rasanya jika kita bisa menarik sebuah pembacaan, bahwa Devtra Mayday sedang sangat-sangat gelisah dengan situasai masyarakat di sekitarnya, dan kegelisahan itu ia tuangkan lewat puisi-puisi dalam “Semoga Adalah Negeriku” Selamat membaca dan mengapresiasi.

==================================================================

untuk pembelian buku ini, bisa melalui 081392309007

Tentang Irwan Bajang

Penulis dan Editor. Juru masak pedans ultraortodoks
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Buku Indie: Puisi Perlawanan

  1. eros berkata:

    wow!! buku2 IBC keren-keren

    setelah membaca Rumah Merah Kita ama Tralala-Trilili, buku-nuku IBC pasti bukan buku-buku melankolis.
    Aku suka.
    Ternyata Penerbit Indie pun tidak kalah dengan penerbit-penerbit konvensional😀

    Semangat terus rekan-rekan di IBC, sukses selalu😀

  2. zulhaq berkata:

    belum baca,

    penjualannya dimana aja? masuk gramed gitu gak?

  3. harijogja berkata:

    wow devtra dah cetak buku ya … salut deh🙂

  4. azhari a.f berkata:

    wah saya dapat satu kemaren;gratis…

  5. merintis dari bawah kelak akan menjadi simbol pionir lahirnya pemikiran-pemikiran baru. dan 20 tahun kemudian menjadi besar seperti GRAMEDIA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s