Buku Indie: Kacang Keledai

Kawan-kawan yang budiman, ini adalah buku baru terbitan Indie Book Corner. Berikut ini tulisan Rivai  Muhamad yang telah mereview buku ini di facebooknya. Saya Copy paste-kan di sini dengan izin penulisnya.

Rivai Muhamad: Perkenalkan, Kacang Keledai

Judul Buku: Kacang Keledai
Penulis: Rey Khazama
Penerbit: Indie Book Corner
Harga kalo ga salah: Rp.30ribu
ISBN: 978-602961-770-2
Jenis Buku: Fiksi Kumpulan Cerpen

Buku berjudul Kacang Keledai ini adalah buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh seorang teman bernama Rey Khazama. Isinya ada berbagai cerpen dengan tema yang amat beragam, mulai dari lucu, menegangkan, menyedihkan, sampai yang bernada spiritual. Pokoknya gado-gado lah, tapi seru.

Daftar Isi:

1. Kacang Keledai
2. Penulis Konyol
3. Antara Ayah, Robin Hood, dan Rock and Roll
4. 60 Mayat
5. Mimpi Dalam Secangkir Teh
6. Tentang Saya dan Milandha
7. Prediksi
8. 32
9. Gubuk Baitur Ruhiyat
10. Tentang Aku, Ram, dan Mantan Kekasihku

Bila ingin membeli, bisa pesan langsung di penulisnya (saya tag di note ini atau hubungi 08812239720) Di buku tsb saya juga sempat menulis kata penutup. Tapi setelah saya baca lagi, rasanya kata penutup yang saya tulis tsb terkesan lebay gimana gitu. Mungkin bagi yang belum baca bukunya akan terasa kurang nyambung (makanya disebut kata penutup). Berikut tulisan kata penutup tersebut dan sekaligus komentar saya mengenai buku ini. Tapi buku ini bagus kok, beneran.

Gurihnya Kacang Yang Diterangkan Oleh Seekor Keledai

Dalam Bahasa Indonesia, perempuan pelukis artinya adalah perempuan yang berprofesi sebagai pelukis, sementara pelukis perempuan berarti orang yang membuat lukisan perempuan. Maka, dalam frasa perempuan pelukis, kata pelukis menerangkan apa profesi si perempuan, sementara dalam frasa pelukis perempuan, kata perempuan menerangkan apa yang dilukis pelukis. Itu artinya, dalam frasa kacang keledai, keledai-lah yang [seharusnya] menerangkan kacang.

Namun apa yang sebenarnya bisa diterangkan oleh seekor keledai mengenai sebuah (atau sebiji) kacang? Apakah keledai makan kacang? Terlebih lagi, apakai keledai pernah makan kacang? Kalau jawabannya tidak, maka keledai pasti akan kesulitan menerangkan kacang, apalagi untuk menjalani perannya sebagai M (Menerangkan) dalam DM (Diterangkan-Menerangkan).

Itulah mengapa keledai seringkali dianalogikan sebagai hewan yang dungu. Keledai yang malang.

Ketika saya diminta untuk memberi kata penutup dari kumpulan cerpen Kacang Keledai, saya mungkin hanyalah seekor kedelai yang berusaha menerangkan sebiji kacang. Sebab saya bukanlah seorang kritikus sastra atau penulis best seller, ataupun editor terkemuka yang menjadi target flirting para penulis pemula. Saya hanya sekedar teman dari si penulis yang kadang saling berbagi pengalaman menulis dan tergabung dalam komunitas yang sama, dan pada saat saya menulis tulisan ini, Rey mungkin sudah selangkah lebih maju daripada saya. Jadi bagaimana mungkin keledai menerangkan kacang?

Saya sudah menerangkannya, filosofi versi saya mengenai judul Kacang Keledai, yang buat saya tentu lebih dari sekedar permainan kata alias plesetan. Bukankah selalu ada hikmah dari segala sesuatu, dan Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia? Saya pun percaya bahwa kita bisa menemukan banyak hikmah dan pelajaran dari sebuah judul yang sepintas terkesan asal-asalan itu. Lalu bagaimana dengan isinya? Bagaimanakah rasanya Kacang Keledai ini?

Membaca isi Kacang Keledai, saya merasa seperti memasuki sebuah lorong yang semakin dalam semakin gelap, pekat seperti kecap (yang dibuat dari kacang kedelai) namun pada akhirnya menemukan kembali cahaya dan jalan keluarnya. Saat membaca cerita-cerita awal seperti Kacang Keledai, Penulis Konyol, dan Antara Ayah, Robin Hood dan Rock and Roll, saya merasa masih berada di luar lorong, masih cerah sumringah. Saya berkali-kali tersenyum dan tertawa ringan. Sejujurnya saya tidak benar-benar sadar bahwa Rey punya selera humor semacam ini, mampu membuat tersenyum meski tak harus tertawa terbahak-bahak. Mungkin memang benar bahwa humor yang baik adalah yang membuat orang tersenyum, bukan tertawa.

Saat membaca 60 Mayat, saya mulai mengerutkan kening. Apakah saya sudah mulai memasuki lorong yang gelap? Apakah Kacang Keledai sesungguhnya merupakan cerita thriller psikopat? Tapi setelah membaca cerita itu hingga selesai, ternyata semua itu tidak benar, rupanya masih ada cahaya terang di tengah lorong—mungkin atapnya berlubang. Saya baru benar-benar berada di dalam lorong ketika membaca Mimpi Dalam Secangkir Teh—jenis cerita yang mengingatkan saya kenapa Rey berulang kali ingin meminjam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira. Lalu setelah itu ada tokoh Milandha (yang lumayan terkenal di kalangan teman-teman penulis) dalam Tentang Saya dan Milandha. Di situ saya masih berada di tengah lorong gelap, dan kali ini agak basah, mungkin karena lorongnya banjir. Dalam cerpen Prediksi pun, airnya masih belum surut, masih sama deras dan basahnya.
Cerpen 32, saya berada di tengah lorong yang amat gelap. Begitu gelap sampai saya menjadi merinding, sebab tak ada secercah cahaya pun yang menerangi saya. Mungkin bagian ini adalah kegelapan yang paling pekat dari Kacang Keledai—seperti halnya saat mata kita ditutup dan disuruh memasangkan ekor keledai ke pantatnya. Dalam dua cerpen berikutnya, yaitu Gubuk Baitur Ruhiyat dan Aku dan Situ Gintung, pancaran cahaya mulai terlihat dari ujung lorong, menandakan adanya jalan keluar. Dan tentu saja, jalan keluar yang terang dan menggembirakan bisa saya temui dalam cerpen Dasi, cerpen segar yang menjadi penutup perjalanan wahana rumah hantu kita kali ini.

Sebagian orang mungkin akan protes, mengapa Kacang Keledai bukanlah buku kumpulan humor tolol seperti yang secara awam mudah diterjemahkan dari judulnya? Bukankah keledai itu dungu? Bukankah Kacang Keledai terdengar begitu lucu, dan sepantasnya menjadi buku yang juga lucu? Bukankah biasanya nama-nama binatang identik dengan judul buku cerita lucu? Tentu saja buku ini lucu, tapi sayangnya penulisnya bukan seorang pelawak. Sebab kalau ia seorang pelawak, tentu ia akan sering tampil di acara-acara lawak di tivi, dan ia tidak akan punya waktu untuk menulis cerpen. Oleh karena itulah, yang menulis buku ini bukan pelawak, tapi penulis. Saya rasa agak sulit dimengerti, tapi biarlah, saya ini hanya seekor keledai yang menerangkan kacang, seperti halnya semua orang. Seperti halnya ilmuwan yang meneliti alam semesta, ilmuwan itu tak jauh beda dengan keledai yang berusaha menjelaskan kacang dalam frasa kacang keledai, keledai tidak tahu apa-apa. Keledai tidak tahu apa hubungan antara Robin Hood dan Dajjal, sebagaimana keledai juga tidak tahu bagaimana akhir dari setiap cerita dalam buku ini, sebab endingnya selalu penuh kejutan. Hal tersebut bukan karena penulis melakukan diskriminasi atau bias spesies, dan bukan juga karena keledai yang konon katanya dungu. Keledai kesulitan menerangkan kacang, sebab meskipun keledai adalah hewan herbivora, ia lebih sering makan rumput daripada makan kacang!

Tentang Irwan Bajang

Penulis dan Editor. Juru masak pedans ultraortodoks
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

9 Balasan ke Buku Indie: Kacang Keledai

  1. medica berkata:

    Mantap!!!!

    • WAWAN berkata:

      INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI
      TRIM’S ROO,MX SOBAT

      INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI
      TRIM’S ROO,MX SOBAT

      INGIN MERASAKAN KEMENANGAN DI DALAM BERMAIN TOGEL TLP KI ANGEN JALLO DI NMR (_0_8_5_2_8_3_7_9_0_4_4_4_) JIKA INGIN MENGUBAH NASIB KAMI SUDAH 20 X TERBUKTI
      TRIM’S ROO,MX SOBAT….

  2. taufick berkata:

    keliatannya sangar🙂

  3. Mas Irwan, itu yang bagian “harga kalo ga salah” benerin napa…? Kan situ yang jual, pasti tau harga pastinya. Hehehe……

  4. fien berkata:

    waduuhh..jadi pengennnn

  5. IBC berkata:

    fien: pengenNn apah???hehehe….

  6. jui berkata:

    apa buku ini ada d toko buku d surabaya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s