Buku Indie: Kacang Keledai

Kawan-kawan yang budiman, ini adalah buku baru terbitan Indie Book Corner. Berikut ini tulisan Rivai  Muhamad yang telah mereview buku ini di facebooknya. Saya Copy paste-kan di sini dengan izin penulisnya.

Rivai Muhamad: Perkenalkan, Kacang Keledai

Judul Buku: Kacang Keledai
Penulis: Rey Khazama
Penerbit: Indie Book Corner
Harga kalo ga salah: Rp.30ribu
ISBN: 978-602961-770-2
Jenis Buku: Fiksi Kumpulan Cerpen

Buku berjudul Kacang Keledai ini adalah buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh seorang teman bernama Rey Khazama. Isinya ada berbagai cerpen dengan tema yang amat beragam, mulai dari lucu, menegangkan, menyedihkan, sampai yang bernada spiritual. Pokoknya gado-gado lah, tapi seru.

Daftar Isi:

1. Kacang Keledai
2. Penulis Konyol
3. Antara Ayah, Robin Hood, dan Rock and Roll
4. 60 Mayat
5. Mimpi Dalam Secangkir Teh
6. Tentang Saya dan Milandha
7. Prediksi
8. 32
9. Gubuk Baitur Ruhiyat
10. Tentang Aku, Ram, dan Mantan Kekasihku

Bila ingin membeli, bisa pesan langsung di penulisnya (saya tag di note ini atau hubungi 08812239720) Di buku tsb saya juga sempat menulis kata penutup. Tapi setelah saya baca lagi, rasanya kata penutup yang saya tulis tsb terkesan lebay gimana gitu. Mungkin bagi yang belum baca bukunya akan terasa kurang nyambung (makanya disebut kata penutup). Berikut tulisan kata penutup tersebut dan sekaligus komentar saya mengenai buku ini. Tapi buku ini bagus kok, beneran.

Gurihnya Kacang Yang Diterangkan Oleh Seekor Keledai

Dalam Bahasa Indonesia, perempuan pelukis artinya adalah perempuan yang berprofesi sebagai pelukis, sementara pelukis perempuan berarti orang yang membuat lukisan perempuan. Maka, dalam frasa perempuan pelukis, kata pelukis menerangkan apa profesi si perempuan, sementara dalam frasa pelukis perempuan, kata perempuan menerangkan apa yang dilukis pelukis. Itu artinya, dalam frasa kacang keledai, keledai-lah yang [seharusnya] menerangkan kacang.

Namun apa yang sebenarnya bisa diterangkan oleh seekor keledai mengenai sebuah (atau sebiji) kacang? Apakah keledai makan kacang? Terlebih lagi, apakai keledai pernah makan kacang? Kalau jawabannya tidak, maka keledai pasti akan kesulitan menerangkan kacang, apalagi untuk menjalani perannya sebagai M (Menerangkan) dalam DM (Diterangkan-Menerangkan).

Itulah mengapa keledai seringkali dianalogikan sebagai hewan yang dungu. Keledai yang malang.

Ketika saya diminta untuk memberi kata penutup dari kumpulan cerpen Kacang Keledai, saya mungkin hanyalah seekor kedelai yang berusaha menerangkan sebiji kacang. Sebab saya bukanlah seorang kritikus sastra atau penulis best seller, ataupun editor terkemuka yang menjadi target flirting para penulis pemula. Saya hanya sekedar teman dari si penulis yang kadang saling berbagi pengalaman menulis dan tergabung dalam komunitas yang sama, dan pada saat saya menulis tulisan ini, Rey mungkin sudah selangkah lebih maju daripada saya. Jadi bagaimana mungkin keledai menerangkan kacang?

Saya sudah menerangkannya, filosofi versi saya mengenai judul Kacang Keledai, yang buat saya tentu lebih dari sekedar permainan kata alias plesetan. Bukankah selalu ada hikmah dari segala sesuatu, dan Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia? Saya pun percaya bahwa kita bisa menemukan banyak hikmah dan pelajaran dari sebuah judul yang sepintas terkesan asal-asalan itu. Lalu bagaimana dengan isinya? Bagaimanakah rasanya Kacang Keledai ini?

Membaca isi Kacang Keledai, saya merasa seperti memasuki sebuah lorong yang semakin dalam semakin gelap, pekat seperti kecap (yang dibuat dari kacang kedelai) namun pada akhirnya menemukan kembali cahaya dan jalan keluarnya. Saat membaca cerita-cerita awal seperti Kacang Keledai, Penulis Konyol, dan Antara Ayah, Robin Hood dan Rock and Roll, saya merasa masih berada di luar lorong, masih cerah sumringah. Saya berkali-kali tersenyum dan tertawa ringan. Sejujurnya saya tidak benar-benar sadar bahwa Rey punya selera humor semacam ini, mampu membuat tersenyum meski tak harus tertawa terbahak-bahak. Mungkin memang benar bahwa humor yang baik adalah yang membuat orang tersenyum, bukan tertawa.

Saat membaca 60 Mayat, saya mulai mengerutkan kening. Apakah saya sudah mulai memasuki lorong yang gelap? Apakah Kacang Keledai sesungguhnya merupakan cerita thriller psikopat? Tapi setelah membaca cerita itu hingga selesai, ternyata semua itu tidak benar, rupanya masih ada cahaya terang di tengah lorong—mungkin atapnya berlubang. Saya baru benar-benar berada di dalam lorong ketika membaca Mimpi Dalam Secangkir Teh—jenis cerita yang mengingatkan saya kenapa Rey berulang kali ingin meminjam buku kumpulan cerpen Sepotong Senja Untuk Pacarku karya Seno Gumira. Lalu setelah itu ada tokoh Milandha (yang lumayan terkenal di kalangan teman-teman penulis) dalam Tentang Saya dan Milandha. Di situ saya masih berada di tengah lorong gelap, dan kali ini agak basah, mungkin karena lorongnya banjir. Dalam cerpen Prediksi pun, airnya masih belum surut, masih sama deras dan basahnya.
Cerpen 32, saya berada di tengah lorong yang amat gelap. Begitu gelap sampai saya menjadi merinding, sebab tak ada secercah cahaya pun yang menerangi saya. Mungkin bagian ini adalah kegelapan yang paling pekat dari Kacang Keledai—seperti halnya saat mata kita ditutup dan disuruh memasangkan ekor keledai ke pantatnya. Dalam dua cerpen berikutnya, yaitu Gubuk Baitur Ruhiyat dan Aku dan Situ Gintung, pancaran cahaya mulai terlihat dari ujung lorong, menandakan adanya jalan keluar. Dan tentu saja, jalan keluar yang terang dan menggembirakan bisa saya temui dalam cerpen Dasi, cerpen segar yang menjadi penutup perjalanan wahana rumah hantu kita kali ini.

Sebagian orang mungkin akan protes, mengapa Kacang Keledai bukanlah buku kumpulan humor tolol seperti yang secara awam mudah diterjemahkan dari judulnya? Bukankah keledai itu dungu? Bukankah Kacang Keledai terdengar begitu lucu, dan sepantasnya menjadi buku yang juga lucu? Bukankah biasanya nama-nama binatang identik dengan judul buku cerita lucu? Tentu saja buku ini lucu, tapi sayangnya penulisnya bukan seorang pelawak. Sebab kalau ia seorang pelawak, tentu ia akan sering tampil di acara-acara lawak di tivi, dan ia tidak akan punya waktu untuk menulis cerpen. Oleh karena itulah, yang menulis buku ini bukan pelawak, tapi penulis. Saya rasa agak sulit dimengerti, tapi biarlah, saya ini hanya seekor keledai yang menerangkan kacang, seperti halnya semua orang. Seperti halnya ilmuwan yang meneliti alam semesta, ilmuwan itu tak jauh beda dengan keledai yang berusaha menjelaskan kacang dalam frasa kacang keledai, keledai tidak tahu apa-apa. Keledai tidak tahu apa hubungan antara Robin Hood dan Dajjal, sebagaimana keledai juga tidak tahu bagaimana akhir dari setiap cerita dalam buku ini, sebab endingnya selalu penuh kejutan. Hal tersebut bukan karena penulis melakukan diskriminasi atau bias spesies, dan bukan juga karena keledai yang konon katanya dungu. Keledai kesulitan menerangkan kacang, sebab meskipun keledai adalah hewan herbivora, ia lebih sering makan rumput daripada makan kacang!

Terbitan IBC: Cinta Itu

Kawan-kawan, ini adalah buku Ari Setiawan yang telah diterbitkan oleh IBC. Simak tulisan Ari yang kami ambil dari note Facebooknya. Simaklah!

Data Buku:

Judul                 :CINTA ITU…

Penulis             : Ari Setiawan

Tebal                 : 30 halaman

Dimensi            : 12 x 18 cm

Harga                 : Rp. 15.000,-

Sebuah kisah cinta yang polos dan begitu jujur adalah sebuah hal yang sangat menarik untuk diceritakan,, Ari sungguh telah berhasil membuat sebuah rangkaian cerita yang eksotis, menyuguhkan konflik bathin yang mendalam. Ia mengajak kita berkaca pada cinta, berkaca untuk cinta dalam novelet pendeknya ini… Saya rekomendasikan kawan-kawan, untuk membacanya! Selamat atas terbitnya bukumu, Ri. Jangan berhenti berkarya! (Irwan Bajang, Penulis, Penggiat buku Indie)

Ketika kekuatan cinta tengah mengendalikan pola pikir seseorang.

~ Status sosial akan terus menjadi peranan penting dalam percintaan.

~Kekasih yang kita cintai memiliki masa lalu. Sudah jujurkah kekasihmu tentang dirinya terhadapmu? Sejauh manakah kejujurannya kepadamu?

~Pernahkah terpikir olehmu? kekasih yang kau cintai berbalik ingin membunuhmu? bukan karena benci, tapi justru karena cinta.

~Jujurlah tentang kekuranganmu atau masa lalumu terhadap kekasihmu, dengan begitu kau akan mengetahui kualitas kekasihmu.Bukankah sangat indah bila kekasihmu mencintaimu apa adanya?

Judul novelet ini ^CINTA ITU…^. Dan itu adalah judul yang tidak lengkap. Jika Anda sudah membaca novelet cerpen ini, anda akan dapat melengkapi judul itu sesuai dengan pikiran Anda sendiri tentang ‘cinta itu apa’ berdasarkan cerita dalam novelet cerpen ini, misalnya:

~ CINTA ITU awal dari benci.

~CINTA ITU buta, sebuta mata kaki, atau

~CINTA ITU (bla..bla..bla..)

Jika saya jadi pembacanya, saya akan melengkapi judul itu seperti ini.

~”CINTA ITU harus diperjuangkan, tapi ada kalanya kita tidak dapat lagi memperjuangkannya. Jadi, ketika kita tidak dapat memiliki apa yang kita cintai, hendaklah mencintai apa yang kita miliki.”

~”Bukan cinta bila kau tidak mencintainya, bukan cinta bila kau tidak menyayanginya, bukan cinta bila kau tidak merindukannya, buka cinta bila kau tidak mempertahankannya, bukan cinta bila kau tidak memperjuangkannya, dan bukan cinta bila kau tidak mengikhlaskannya.”

Di dalam novelet cerpen ini saya selipkan beberapa puisi yang terinspirasi dari cerita tersebut, di mana puisi-puisi ini akan memperkuat plot atau alur ceritanya. Dan membuat tulisan ini beda dari tulisan kebanyakan.

Berminat untuk membeli, hubungi langsung penulisnya (Ari Setiawan). Telepon atau SMS ke 02193295936.

Khusus untuk yang bersekolah di Widya Nusantara (WINUS) Jembatan 4 Rawalumbu, bisa tanyakan kepada Erizka Sudesty.

Testimonial: Buku Medical Love

Kawan-kawan, ini salah satu testimoni yang dikirimkan seorang penulis yang telah sukses menerbitkan buku di IBC. Silakan dibaca ya, mudahan nanti bisa jadi pemacu semangat kawan-kawan untuk terus menulis, menulis dan menulis. Salam sukses selalu. Simak pernyataan berikut!

…………………………………………………………………………………..

Dream comes true!
Saya pernah punya mimpi untuk mempunyai sebuah
buku tapi tidak menyangka akan terwujud di akhir tahun 2009. Dan tentu saja
ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada IndieBookCorner yang telah
mewujudkan salah satu mimpi saya ini.

Iam a writer right now,  (masih tidak percaya)!!!!!! Kini saya telah
punya buku “Medical Love”, sebuah buku berisi kisah-kisah mini dan beberapa
puisi tentang cinta yang ditulis dengan istilah-istilah kedokteran.

Awalnya ada sedikit keraguan
sebelum mengirim salinan Medical Love ke IBC, ragu karya saya ini tidak
menarik, tidak pantas, tidak layak, tidak bakalan laku, tidak dLL. Jadi saya
sempat mengirim naskah ini ke beberapa teman untuk minta pendapat. Teman-teman
saya memberi dukungan (bukan teman kalau tidak memberi dukungan hehe). Saya
akhirnya mengirim karya ini, sangat mudah, hanya dengan membuka email, upload naskah
dan sent (keraguan sebenarnya karena saya bahkan tidak mengenal Irwan Bajang,
IBC, dll, dan saya sangat menyayangi tulisan-tulisan ini). Tapi, sekarang,
tulisan-tulisan itu telah menjadi sebuah buku (masih tidak percaya)!!!!. Dream
comes true..^….^…

Buat teman-teman yang berniat
membaca karya saya, hubungi Tim IBC atau email saya di girlmedica@yahoo.co.id atau no telp
081354798079. Tenkyuuuu!!!

Merdiyani, Penulis ‘Medical Love’

……………………………………………………………………………………..

Nah, siapa lagi yang mau nulis dan menerbitkan karyanya di IBC?

Hehehehe,”Tugas Anda adalah menulis, serahkan penerbitannya pada kami!”

Menjual Buku Indie Anda

Takdir buku berikutnya setelah diterbitkan adalah dihadirkan ke pembaca. Maka setelah buku itu diterbitkan, menghadirkannya untuk dibaca orang lain adalah langkah yang harus segera diambil. Tentu saja hukum ini berlaku bagi semua jenis buku, kecuali memang buku yang dibuat hanya untuk koleksi pribadi, seperti buku foto atau diary yang diniatkan untuk kalangan sendiri atau terbatas.

Banyak orang yang ragu, ketika menempuh jalan indie. Mereka menganggap, buku indie adalah buku tidak layak, atau buku yang belum memenuhi kriteria untuk dipasarkan. Siapa bilang? Selama semua proses produksinya dilewati dengan lengkap, baik edit, proof, cover yang bagus dan layout yang menarik, buku indie tidak ada bedanya dengan buku konvensional lainnya.

Nah, lalu bagaimana mendistribusikan buku terbitan kita sendiri? Gampang!

Tekhnologi sudah berkembang sangat pesat. Di negara-negara maju, penjualan buku bahkan sudah bisa melalui email atau perangkat seluler, toko buku online makin bertebaran, pembeli hanya tinggal kirim email atu sms, dan buku akan segera dikirimkan. Bahkan kalau membeli ebook, ebook akan dikirim ke email atau ponsel pembeli, tinggal download dan baca. Canggih, kan? Beberapa penerbit luar menjual buku dalam dua versi, terserah mau beli buku versi ebook atau versi print. Kita hanya tinggal telpon dan pesan, maka buku akan segera ditangan.

Perkembangan situs-situs jejaring sosial, seperti facebook, twiter dan lain sebagainya, memberi ruang untuk para penulis indie untuk memasarkan sendiri bukunya. Tidak perlu melalui distributor dengan diskon yang super besar (sampai 60%). Anda hanya cukup memajang foto buku Anda, harganya berapa, sistem pembayaran, selesailah sudah. Tinggal promosi dan menunggu sms atau telpon, atau email Anda didatangi oleh calon pembaca. Simpel, kan?

Selain itu Anda juga bisa membuatkan blog buku Anda. Banyak penyedia blog gratis, blogger dan wordpress adalah yang paling popular. Saya sendiri membuatkan blog pribadi, khusus untuk promosi buku dan ruang interaksi pembaca buku saya. Jika Anda ingin lebih lagi, Anda cukup mengeluarkan beberapa uang anda untuk memesan domain website buku Anda. Anda bahkan bisa memilih nama yang Anda sukai, www.bukusaya.com misalnya, atau www.namasasayasiapa.com. Sangat gampang.

Penulis juga bisa memanfaatkan jejaring lain, sepeti cafe, distro, toko kaset, kantin dsb. Anda tinggal menitipkan di sana dengan beberapa perjanjian dan Anda hanya perlu menagih pembayaran buku yang laku, sesuai kesepakatan. Bisa sebulan, seminggu atau dalam tenggang waktu tertentu.

Tapi jika Anda tak mau repot, Anda juga bisa memajang buku anda di toko buku langsung. Tidak ada syarat yang mengikat, hanya perlu ISBN  buku saja. Anda bisa memasarkan sendiri di toko buku kota Anda, atau menggunakan jasa distributror untuk pemasaran yang lebih jauh dan tidak bisa Anda jangkau. Dengan memasukkan buku ke toko buku, Anda biasanya dikenakan potongan harga 30-40% dari harga netto buku, atau 50%-65% untuk  memakai jasa distributor.

Nah, gampang, kan, memasarkan buku Indie?

Masih mau jalur lain lagi? Oke, Anda bisa mengadakan bedah buku di kampus, sekolah, atau bahkan di rumah sendiri dengan mengundang teman, kerabat atau siapapun untuk datang. Pajang dan jualah buku Anda di situ. Cara ini biasa dipakai banyak penulis, terutama buku tutorial, motivasi. Bahkan beberapa penyair membuat acara baca puisi sembari menjual puisinya. Jika mau lebih ramai lagi, acara tersebut bisa digabung dengan acara musik akustik, musikalisasi puisi atau metode lain. Yang penting adalah, kreatif promosi! Semakin rajin promosi, semakin dikenal juga buku Anda dan makin tinggi kemungkinan buku Anda dibeli orang.

Masih nanya lagi mau seperti apa? Tenang, saya masih punya banyak jurus. Titipkan di teman Anda, minta ia untuk membantu menjual, atau titipkan di toko buku online, atau keliling di rental buku dan tawarkan buku tersebut. Banyak cara, kan?

Tapi, apa yang saya mau tawarkan, punya buku aja belum? Hahahaha. Makanya, menulislah dan terbitkan sendiri buku Anda bersama IBC. Karena tugas Anda hanya menulis, dan serahkan penerbitannya pada IBC.


Blogged with the Flock Browser

Gampangnya menerbitkan buku indie

a-main_FullApakah kamu seorang penulis yang idealis? Penulis yang senang menulis sebuah tulisan aneh yang jarang ditulis orang lain? atau kamu adalah penulis keras kepala yang susah kompromi dengan orang lain? Mungkin kamu bukanlah orang yang dicari banyak penerbit. Karena menerbitkan buku butuh banyak kompromi tema, bentuk dan genre yang laku. Tapi bukan berarti kamu tidak berpeluang menjadi penulis, banyak alternatif lain, bisa dengan menjadi bloger, menulis di milis, atau, tenerbitkan buku kamu secara Indie. Berani?

Berani menerbitkan hasil karya sendiri, berarti kamu sudah berani mengambil sebuah keputusan. Dengan demikian, kamu telah memposisikan diri sebagai seorang penulis sekaligus pengusaha, sehingga, secara garis besar, kamu punya dua keuntungan. Yang pertama adalah kepuasan materi. Kamu akan mendapat laba penjualan buku yang jauh lebih besar dibandingkan dengan menerbitkan buku di penerbit. (sekadar tahu, royalty di penerbitan rata-rata 10% dari hasil penjualan buku). Dan keuntungan nonmaterinya adalah, kamu akan merasa bangga sebab telah berhasil mempublikasikan karyamu sendiri menjadi sebuah buku dan dapat dinikmati banyak orang. Eksistensimu sebagai penulis segera akan diakui.

Ada banyak keuntungan lain sebagai penulis yang bisa menerbitkan buku secara indie. Kamu bisa membentuk dan mempublikasikan karyamu sesuai selera. Kamu bisa pilih cover sesuka hatimu tanpa ada intervensi dari penerbit, atau kamu juga bisa memilih bentuk buku sesuai keinginanmu, ukurannya besar kecilnya, tebal tipisnya, semua terserah padamu. Lay outnya pun demikian, bisa saja kamu pilih bentuk buku seperti yang kamu suka, fullcolour, berhias gambar, bentuk lingkaran, dan lain sebagainya. Selain itu, kamu juga tidak harus repot dan lelah menunggu berbulan-bulan untuk sekadar mendengar khabar naskahmu diterima atau tidak. Kamu bisa mengatur waktunya sesuai dengan keinginan kita. Hal ini jauh berbeda apabila kamu mengirim naskahmu ke sebuah penerbit. Kamu harus menunggu seleksi, kemudian menunggu proses editing, pracetak dan sampai proses cetak yang semuanya bisa memakan waktu dari 6 bulan hingga satu tahunan. Dalam menerbitkan indie, kamulah yang memegang semua kendali atas proses penerbitan hasil karya kamu. Sejak awal proses penulisan sampai dengan pendistribusian ke pembaca. Kamu akan memotong jalur penerbitan yang ribet dan sangat lama itu. Pakailah jurus dan jalurmu sendiri.

Secara pribadi, saya akan merasa senang sekali mengirimi teman-teman saya buku yang saya bikin sendiri. Sebab bagi saya, menulis adalah untuk menggali kepuasan eksistensial. Bahwa dengan meninggalkan jejak tertulis sebelum saya meninggal dunia, setidanya saya meninggalkan sesuatu yang hidup dan tak bisa mati dari diri saya, meskipun saya mati. Sesuatu itu adalah pikiran, dan pandangan saya mengenai hidup dan banyak hal di seputarnya. Saya menulis maka saya ada, begitu kira-kira simpelnya.

Proses penerbitan buku pada dasarnya sangat sederhana. Setidaknya ada 5 tahap dalam proses tersebut. Pertama adalah menyediakan naskah. Pada tahap ini, penulis tentu saja harus menulis, atau mengumpulkan tulisannya yang terserak di mana-mana. Atau bisa saja menulis secara kroyokan, antology puisi misalnya, atau antologi cerpen, dan lain sebagainya. Tahap kedua adalah tahap pengeditan naskah, tahap ini meliputi pengecekan, kurasi, atau beberapa unsur lain untuk memperantik naskah yang telah jadi. Dalam tahap ini juga berlangsung pengecekan kesalahan tanda baca oleh seorang proof reader (asisten editor, atau second editor). Para penulis indie biasa meminta bantuan atau membayar jasa seorang editor untuk melakukan hal tersebut.

Tahap ketiga adalah lay out dan cover. Tahap ini naskah yang sudah siap di susun sedemikian rupa dalam bentuk buku, lalu diberi cover yang menarik agar calon pembaca tertarik melihat dan membelinya. Tahap keempat adalah mencetak. Tahap ini simpel saja, tinggal mencari percetakan dan segera mewujudkan naskah itu menjadi buku.

Nah, sekarang buku sudah siap, maka pekerjaan berikutnya adalah mendistribusaikannya. Kalau secara konvensional, tentu kamu tak harus keliling toko-toko buku untuk menawarkannya. cukup dengan menggunakan jasa distributor yang akan menyebar seluruh buku tersebut ke toko buku se Indonesia Raya. Lantas bagaimana kalau buku kita indie dan hanya cetak sedikit? Indie atau tidaknya buku tidak berpengaruh pada distributor. Yang penting buku punya ISBN, maka mereka akan mau membantu menyebarkann bukumu. Distributor biasanya meminta potongan harga 40% hingga 60% dari harga jual buku tersebut. Namun bagi penulis yang mencetak buku secara indie atau jumlah yang terbatas, jangan khawatir, jaman telah berubah begitu cepat. Telah ada Blog, Milis, Facebook, Twiter, My space, Friendster dan lain sebagainya. Kamu bisa memanfaatkan layanan ini untuk menjualnya di sana. Atau kamu bisa titipkan di komunitasmu, di sistro, kafe, kantin dan tempat alternatif lainnya. Semakin kreatif kamu, maka makin cepat juga bukumu laris manis di pasaran.

Simpel, kan, menerbitkan buku itu? Lalu, apalagi yang kamu tunggu. Segeralah kumpulkan tulisanmu, selesaikan yang belum jadi dan terbitkanlah segera, agar bisa dibaca orang dan pendapatmu didengarkan. Cari temanmu yang bisa mengedit, lay out, dan dibikin sampulnya segera. Atau kalau tidak, komuniatas-komunitas sastra, komunitas-komunitas bloger, segeralah mempelopori dan menggawangi penerbitan karya anggotanya yang layak dibukukan. Adanya jaringan komunitas, sahabat dan lain sebagainya akan menjadikan kekuatan pemasaran semakin besar dan luas.

Sayang sekali kalau tulisanmu yang inspiratif, keren dan mencerahkan itu hanya terpampang di monitor dan tidak terarsip dengan baik. Kalau kamu masih menganggap buku sebagai sesuatu cara menyebarkan gagasan yang efektif, segeralah jadikan buku tulisan-tulisanmu itu.

Gambar dicolong dari sini

Buku Sketsa Senja Cetak Ulang Lagi

Cover Sketsa Senja2Setelah pernah dicetak beberapa kali, akhirnya Sketsa Senja: sebuah kumpulan puisi Irwan Bajang dicetak lagi. Setidaknya buku ini adalah buku pertama saya yang sungguh pernah membuat saya bangga (bahkan sampai sekarang). Buku ini, dulu diterbitkan pada saat saya sama sekali buta dan tak mengenal dunia penerbitan buku. Waktu itu saya hanya tahu menulis, menulis dan menulis. Saya tidak pernah tahu di mana saja penerbitan di Jogja atau di Indonesia, apa itu editing, bagaimana itu layout. Saya belum bisa pothoshop untuk bikin cover, belum bisa page maker, belum bisa corel draw. Saya menulis dengan buta dan sama sekali tak paham bagaimana mempublikasikannya. Saya menulis, membaca buku, berdiskusi, mengirimkan ke koran, itu saja. Saya buta tentang bagaimana buku ini diterbitkan.

Saya hanya publikasi di blog (meskipun waktu itu, saya juga awam dengan blog). Beberapa tulisan memang pernah diterbitkan di koran, majalah kampus, dibaca di forum-forum teater, dimusikalisasikan, dipentaskan menjadi puisi gerak dan ditempel di majalah dinding dan lain sebaginya. Saat itu saya sedang sangat produktif menulis puisi, saya bergabung dengan kelompok teater di Jogja, menghadiri hampir setiap acara pementasan, baca puisi, dan tekun menulis skenario dan cerpen. Di saat kebutaan saya tentang industri perbukuan itulah, entah kenapa tiba-tiba saya ingin punya kumpulan puisi. Saya ingin punya sebuah buku yang menghimpun karya saya yang tercecer di rak kertas, di hard disk kawan-kawan sekontrakan, di catatan-catatan buku saya saat saya malas kuliah. Saya hanya punya satu tekad: saya harus punya buku kumpulan puisi.

Akhirnya, saat ini, Sketsa Senja adalah buku saya yang paling membanggakan. Karena saat-saat ketika buku ini terbit, keinginan saya memiliki buku sungguh menggebu-gebu demikian juga dengan produktifitas saya. Saya sedang gila menulis waktu itu. Saya kumpulkan puisi-puisi saya yang berserakan dari tahun 2005-2007 akhir.

Indie Book Corner mencetak ulang buku ini. Dengan sentuhan baru pada cover, sentuhan editing, proofing dan lay out oleh IBC Team Work. Buku ini bermetamorfosis. Tata bahasa yang dulu kacau dan berantakan, kini telah lebih rapi, pilihan font sudah sesuai, dan lay out yang makin cantik. Beberapa puisi hingga paruh pertiga tahun 2008 juga saya masukkan. Saya tak henti-hentinya tersenyum. Saya puas, sungguh-sungguh puas! Saya senang dan saya bahagia melihat buku ini menjadi jauh lebih bagus dari sebelumnya. Bukan lagi fotokopian, jilid biasa, hitam putih dan lain sebagainya. Buku ini setidaknya sudah layak dikoleksi sekarang, ia telah melewati semua tahap penerbitan. Kini buku ini ingin kembali saya sodorkan pada pembaca, semoga berkenan untuk apresiasi.

Buku Indie Lagi: Tralala Trilili Namanya

KTNSebuah komunitas sastra di Jogja, Komunitas Tanpa Nama (KTN) ingin menerbitkan buku, sebagai pengikat komunitas mereka. Lalu mereka sepakat mengumpulkan tulisan berupa sejumlah puisi, cerpen, essai, flash fiction dan lain sebagainya. Kebetulan di antara mereka beberapa ada yang bekerja di penerbitan buku, sebagai editor, jadi untuk cover, editing, froofing, mereka menggunakan kekuatan sendiri, tanpa harus minta bantuan orang lain. Maka setelah bahan-bahan tulisan mereka terkumpul, mereka memutuskan untuk menerbitkan buku itu melalui jalur “Indie Label”. Sangar, kan?
Buku itu diberi judul Tralalatrilili. Dengan semangat menggebu, mereka mendatangi penyair Saut Situmorang ke rumahnya, dan meminta ia memberi sebuah catatan penutup untuk kumpulan tulisan itu. Saut pun setuju, dan memberi sebuah catatan penutup dengan judul Sastra Kampus, Sastra Underground, sebuah essai yang mengkritisi posisi mahasiswa dan corak sastra yang mereka hadirkan di tengah situasi social masyarakatnya.
Alhasil, setelah mengumpulkan sejumlah uang, entah dari tabungan atau uang saku mereka, dan setelah berjuang tak kenal lelah, buku itupun kini telah terbit dan dijualkan pula secara indie oleh mereka. Ada sebelas orang penulis di dalamnya: Arfin Rose, Dimas Prastisto, Mega Aisyah Nirmala, Mega Ayu Krisandi Dewi, Dhaniel Gautama, Arie Oktara, Rizal Fernandez, Amier Chan, Irwan Bajang, Djali Gafur, Anita Sari.
Ini adalah satu lagi bentuk buku indie yang berani tampil di tengah hingar bingar bisnis buku yang semakin market oriented. Penerbit mana yang mau menerbitkan buku kumpulan tulisan dari manusia-manusia tak terkenal seperti mereka ini? Mungkin bagi penerbit, buku ini tak akan memeberi hasil jika diterbitkan, hanya menambah ongkos produksi dan menyurutkan penghasilan. Tapi tidak buat lascar KTN, buku ini adalah sebuah semangat dan sebuah anak bersama yang mereka rawat dan jaga. Sebuah kebanggaan bagi mereka untuk memiliki sebuah buku bersama-sama. Mereka mulai menulis, menerbitkan juga mengedaran buku ini dengan semangat Indie, semangat muda yang menyala-nyala.
Apakah Anda tidak tergugah? Siapkan tulisan Anda dan majulah dengan semangat indie!
Berikut ini, sebuah kata pengantar yang mereka tulis untuk bukunya.

Anak Kami Bernama Tralalatrilili

Barangkali kami tak punya cita-cita yang besar ketika memulai berkumpul dan berproses, lalu berniat untuk melahirkan anak bersama kami ini. Tapi begitulah, kami memang tak punya banyak impian kala itu, selain bermimpi anak kami ini lahir dan bisa bermain bersama orang-orang yang kelak (mau) menjadi teman, sekadar kenalan atau bahkan kelaknya bermusuhan. Kami menjaga setiap proses kelahirannya, memberinya gizi yang (barangkali cukup) seimbang, sembari berdoa, kelak anak kami ini menjadi jejak sejarah keberadaan kami. Menjadi cerita bahwa kami pernah ada dan pernah sedikit bermimpi.
“Kenapa Tralala Trilili?”
“Pertanyaan Anda aneh sekali, tolong jangan tanyakan itu.”
“Kenapa? Saya mau tahu!”
Waduh, baiklah, akan kami coba jawab seadanya. Tralala Trilili barangkali representasi dari imajinasi nakal kami. Imajinasi yang kadang tak terbendung, kadang garing, aneh, gila bahkan konyol dan tak masuk akal. Tapi percayalah jika imajinasi itu kadang kami rindukan sendirian di pojok kamar kami. Kami jadikan bahan hiburan saat sedih dan patah hati. Kami merangkai tulisan-tulisan ini di kamar-kamar kami, ditemani kopi dan insomnia barangkali. Sesekali di kampus, seringnya di warung tempat kami makan, di kantin, di halaman, saat putus cinta,
saat dapat beasiswa, atau saat bersebrangan pilihan dengan pacar, suami atau istri salah satu di antara kami.
Dari situ kami yakin TralalaTrilili ini lahir. Dia bukan anak yang dahsyat, yang jika dibaca akan membuat mata berkaca-kaca, atau membuat kemarahan Anda meledak-ledak. Ia hanyalah kumpulan keceriaan sekaligus kegelisahan. Sebuah perpaduan sifat yang sungguh sangat bertolak belakang. Jadi harap maklum jika seusai (atau bahkan sebelum) membacanya, Anda sudah tidak suka dan ingin menyobek atau membuangnya.
Tapi begitulah, dengan segala kerendahan hati kami, tapi juga dengan penuh kebanggaan, melahirkannya, memberinya nama dan berjanji akan menjaganya. Kelak akan kami asuh di tengah-tengah Anda semua. Kami tak ingin berharap banyak, karena keterbatasan dan ketololan kami. Kami hanya ingin kelak anak kami, Anda dan juga kami mengingat dua kalimat yang pernah ditulis oleh Chairil Anwar: Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Kami hanya ingin tersenyum menyambutnya. Memperkenalkannya pada banyak orang. Dan tanpa malu mengaku bahwa kamilah bapak dan ibunya.

Salam sehat selalu untuk Anda.

KTN

Sketsa Senja: Sebuah kumpulan puisi indie label

Sketsa Senja

Sketsa Senja adalah sebuah buku kumpulan puisi Irwan Bajang, yang di terbitkan pada awal tahun 2008. Buku ini diterbitkan secara Indie Label. Pada awalnya, buku ini dicetak hanya sepuluh eksemplar, lalu disebarkan pada teman-teman dan orang-orang terdekatnya. Banyak yang menyenangi buku ini, dan memintanya untuk mencetak ulang. Lalu dicetak ulanglah buku ini sejumlah sepuluh buku lagi. Jumlah sepuluh itu ternyata habis dibeli oleh teman-temanya sendiri. Lalu ia cetak ulang 20 eksemplar, 30 dan beberapa kali cetak ulang dalam jumlah yang lebih besar.
Buku kumpulan puisi ini berisi beberapa puisi yang pernah dimuat di majalah, koran, buletin, majalah dinding dan beberapa kali dibacakan di acara tater atau di acara musikalisasi puisi, juga dibacakan di jalanan saat demonstrasi sebagai puisi pamflet. Buku ini tercipta dengan kerjasama bersama temannya yang mendesain cover dan layout isi.
Ada yang tertarik menerbitkan buku indie lagi?

Tentang Kami

Indie Book Corner

Dunia semakin cepat berkembang, jika kita lambat menyikapi fenomena perkembangan tersebut, maka bersiap-siaplah tergilas dan hanya menjadi penonton. Di dunia film dan musik misalnya, hampir setiap hari kita menyaksikan kemunculan album musik dan film baru. Makin banyak bermunculan orang-orang yang bergelut di dunia itu: aktor, sutradara, penyanyi, band dan beberapa pelaku lainnya. Tentu saja dengan produk mereka masing-masing baik berupa film atau album musik.

Telah banyak orang yang menempuh jalur indie. Musik indie berkembang karena semakin banyaknya studio musik yang dapat membantu merekam lagu, mixing dan proses lainnya sehingga menjadi sebuah lagu atau album yang utuh. Juga semakin gampangnya penggandaan keping cd audio tersebut. Selain itu penjualnya pun makin mudah dengan adanya bentuk penjualan online, RBT, Ring Tone dan lain sebagainya.

Film indie semakin marak dan banyak diproduksi karena makin banyaknya tersedia kamera dengan harga murah dan peralatan lain yang bisa mendukung pembuatan film. Tentu saja selain proyek idealis, misalnya karena tema yang diangkat atau aliran dan lain sebagainya. Tapi toh kita tak bisa mengabaikan bahwa semakin kompleksnya faktor pendukung ikut mendorong hal tesebut untuk semakin berkembang.

Bagaimana dengan dunia buku? Sebenarnya dunia buku indie sudah sangat lama berkembang dan dipakai banyak orang. Hanya saja, di Indonesia hal ini belum sepopular seperti film atau musik . Di banyak negara, praktik self-publishing atau penerbitan buku secara indie berkembang cukup pesat. Milis self-publishing semakin dipenuhi oleh angota baru setiap harinya. Makin banyak penulis baru muncul dan makin beragam pula jenis buku yang meluncur ke pasar.

Di dalam negeri beberapa penulis menerbitkan bukunya secara mandiri. Banyak alasan mengapa mereka memilih menjauh dari penerbit konvensional dan memilih menerbitkan buku sendiri. Ada yang beralasan bahwa penerbit konvensional cerewet dan mau menang sendiri dengan menekan royalty penulis pemula hingga 8%. Ada juga penulis yang memiliki keyakinan berbeda dengan penerbit. Penerbit tidak percaya bahwa buku sang penulis marketable, sementara sang penulis sangat yakin bukunya bakal best seller. Karena itu ada penulis yang bertekad menerbitkan sendiri bukunya baik karena sudah tidak sepaham dengan penerbit konvensional, atau ada pula yang mengambil tekad tersebut karena memang mau demikian bukunya diterbitkan.

Bagaimana hasil akhirnya? Hasil harus dilihat berdasarkan tujuan. Ada yang bertujuan agar bukunya sekadar terpajang di toko buku, ada yang sadar bahwa pasarnya sempit sehingga penerbit pasti tidak mau menerbitkan, ada yang punya tujuan ekonomi, ada yang ingin menjadikannya kado persembahan dan ada banyak tujuan lain. Dalam praktik semua tujuan itu selalu ada, dan banyak pula yang berhasil. Sekadar contoh, tentu Anda pernah dengar bahwa buku ESQ terjual lebih dari 250.000 eksemplar, kita juga ingat cetakan awal Supernova-nya Dewi Lestari dicetak berulang-ulang, mereka adalah sebagian contoh penulis yang menerbitkan buku melalui jalur indie label.

Lalu, kenapa Anda belum memulai? Belum tahu atau belum berani? Untuk membantu Andalah Indie Book Corner ada. Jangan ragu untuk segera mengontak kami. Kami akan membantu siapapun yang ingin menulis dan menerbitkan bukunya. Segera selesaikan buku Anda, hubungi kami, kita diskusikan buku Anda dan segera kita eksekusi supaya cepat tersaji di hadapan pembaca. Apakah melihat orang-orang terdekat, sahabat, orang tua dan kerabat lainnya membaca buku Anda bukan merupakan sebuah kebangaan?

Salam hangat, semoga sehat dan semangat selalu.